Skip to Content

Tshirt NoMeansNo

Tshirt NoMeansNo
Ukuran : S, M , L
Harga : Rp. 70.000

SKU: 15011411
Price: Rp70,000.00
Rp70,000.00

pilih ukuran

Pilih warna

Tshirt Rape : Rape is Never Funny

Tshirt : Rape Is Never Funny
Ukuran : M dan L
Harga  : Rp. 70.000
 

SKU: 05011311
Price: Rp70,000.00
Rp70,000.00

pilih ukuran

Pilih warna

Jurnal Perempuan Edisi 71 : Perkosaan dan Kekuasaan

Jurnal Perempuan edisi no. 71
Judul   : Perkosaan dan Kekuasaan
Terbit : Tahun 2011
ISSN   : 1410-153X
Harga : Rp. 25.000
 
Bagaimanakah masyarakat menanggapi kasus perkosaan? Cara pandang masyarakat tentang ini tidak dapat dilepaskan dari persepsi mereka terhadap tubuh perempuan. Budaya kita masih menganggap perempuan hadir semata-mata untuk fungsi biologi (reproduksi dan seks), dan tidak terlalu diinginkan bila tampil dalam fungsi sosial, politik, sains dan budaya. Mereka belum dianggap sempurna bila tidak berfungsi secara biologis. Setinggi-tingginya karir dan prestasi perempuan, akan selalu diingatkan untuk tidak keluar dari "kodrat" (baca:fungsi biologi dan reproduksi). Karena itu tidak heran setiap kali bicara soal perempuan di berbagai media, selalu tidak lepas dari persoalan seks, reproduksi atau tubuhnya bukan  pikiran dan gagasannya. Problem besarnya bukan pada kata seks dan tubuh itu sendiri, melainkan persepsi yang dipenuhi mitos-mitos yang belum tentu benar. Persepsi ini berdampak mengganggu kehidupan perempuan karena tubuhnya selalu dinilai orang lain. Contohnya mitos soal menstruasi, keperawanan, kehamilan dan menoupase. Semua bagian-bagian tubuh perempuan dipenuhi persepsi-persepsi ekstrim baik-buruk, ideal-tidak ideal dan hampir semua tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
 
 

SKU: 01710011
Price: Rp25,000.00
Rp25,000.00

HAM, Yang Muda Kini Bicara

Seorang anak SMA duduk di mobil angkutan umum berdesak-desakan dengan banyak orang. Lalu tiba-tiba ada seorang bapak merokok di angkutan umumtersebut, seketika anak SMA itu berkata “Pak, jangan merokok dong. Di sini kan tempat umum!”. Bapak tersebut berkata “Ini kan HAM saya. Ya suka-suka saya dong!”
 
Dari cerita di atas kita bisa melihat penggunaan kata HAM atau kita kenal dengan Hak Asasi Manusia. sebenernya apa sih Hak Asasi Manusia itu? Ketika mendengar kata Hak Asasi Manusia, sebagian anak muda berpendapat kalau isu ini hanya dibicarakan di kalangan orang tua saja. Benarkah Hak Asasi Manusia itu terkesan “berat” dan jauh dari kehidupan anak muda? Lalu bagaimana hubungannya dengan anak muda?
 
Anak muda memiliki keunikan dibandingkan dengan anak kecil maupun orang dewasa. Apa yang membuat anak muda ini berbeda? Kelebihannya, anak muda memiliki semangat yang sangat menggebu dan rasa keingintahuan yang tinggi dalam segala hal. Mulai dari kesenian, olahraga, kepemimpinan, pergaulan, sampai seksualitas. Keingintahuan kita yang sangat tinggi ini yang patut disyukuri selagi kita masih muda, karena kita mampu membedah segala hal yang ingin kita tahu di dunia ini. Wohoo, seru banget ya jadi anak muda!
 
Namun, terkadang anugrah kita sebagai anak muda ini mengahdapi banyak halang rintang. Mulai dari pendapat kita yang dibatas-batasi oleh orang yang lebih senior daripada kita (contoh: teman, kakak kelas, guru, kepala sekolah, atau guru) sehingga kita tidak dapat menyuarakan pendapat kita sampai lega. Atau pernah mengalami “bentrok pendapat” dengan orang tua tentang pilihan kamu buat masuk jurusan bahasa ketimbang jurusan IPA/IPS di SMA? Padahal, kita sebagai anak muda memiliki hak untuk menyuarakan pendapat serta menentukan pilihan kita sendiri lho.
 
Fakta yang menarik adalah ternyata hak untuk bersuara serta menentukan pilihan itu adalah bagian dari Hak Asasi Manusia! Lalu, apa pentingnya anak muda memahami Hak Asasi Manusia? Selain dari keingintahuan dan semangat yang tinggi, anak muda juga sedang mengalami proses pencarian jati diri yang sangat kuat. Bisa dikatakan bahwa anak muda masuk ke dalam zona abu-abu karena sudah “basi” buat digolongkan sebagai anak kecil, tapi belum cukup matang untuk masuk ke dalam golongan dewasa.
 
Emosi yang belum cukup stabil dan didukung dengan kondisi fisik yang kuat membuat anak muda sangat rentan melakukan tindak kekerasan terhadap anak muda lainnya. Di mulai dari kekerasan verbal seperti mengolok-olok, meremehkan, mencibir, meneror bahkan sampai melakukan kekerasan fisik seperti menampar atau memukuli. Hal ini dilakukan anak muda semata-mata untuk menunjukkan kekuasaannya dihadapan anak yang lebih lemah. Tindakan ini ternyata masuk ke dalam pelanggaran Hak Asasi Manusia. Wah, jangan-jangan kita sudah menjadi korban Hak Asasi Manusia atau justru kita membiarkan pelanggarannya? ***
 
 
 

SKU: 02250011
Price: Rp20,000.00
Rp20,000.00

Pendidikan Merobotkan Manusia

Sistem pendidikan kita telah berhasil menciptakan murid-murid yang jago berlari mengejar angka. Angka tinggi, lulus, lalu mampu memasuki dunia industri. Hanya sebatas itukah fungsi pendidikan? Bung Hatta pernah berkata bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Sayangnya, adanya Ujian Nasional, sekolah unggulan, sekolah berbasis internasional—meskipun dengan bahasa yang tidak internasional- tidak berjalan ke tujuan tujuan tersebut. Sistem pendidikan kita masih bertujuan untuk mencetak sekadar ‘pekerja’ bukan ‘manusia’. Belum lagi, meskipun Hari Kartini selalu dirayakan setiap 21 April, nyatanya pendidikan kita masih belum ramah terhadap perempuan. Di berbagai daerah, masih subur anggapan bahwa perempuan tidak perlu bersekolah karena laki-laki yang akan bekerja untuk keluarga. Ini bukti bahwa pendidikan masih dianggap sebagai pabrik untuk mencetak pekerja.  
 

SKU: 04190011
Price: Rp7,500.00
Rp7,500.00

Jurnal Perempuan edisi 70: Sekolah Mahal

Jurnal Perempuan Edisi 70

Sekolah Mahal 

Terbit : 2011
ISSN : 1410-153X 
Harga: 25.000,-

Perhatian Perempuan Dalam setiap perbincangan perempuan, terutama para ibu sering kita mendengar keluhan soal sekolah anak-anaknya. Tidak sedikit yang mengeluh betapa mahalnya sekolah pertama dan menengah, atau kesulitan mendampingi anak-anaknya menyelesaikan pekerjaan rumah untuk berbagai mata pelajaran. Perbincangan tentang pendidikan telah menjadi tema besar dan masuk ke rumah-rumah, dan menjadi salah satu beban pikiran para ibu yang ingin anak-anaknya pintar dan maju.

 
Kita masih diingatkan oleh salah satu kasus yang mencuat dan menjadi tema utama di media massa, bagaimana seorang ibu membela anaknya yang tidak mau memberikan contekan pada saat ujian, dan tak disangka pembelaan sangibu ini justru berbalik menjadi cacian masyarakat di sekitarnya. Bahkan isu ini mengakibatkan para pejabat pemerintah perlu membuat pernyataan di media.
 
Sudah lama tema pendidikan sangat dekat dengan perempuan. Tidak sedikit pula perempuan yang memiliki profesi pekerjaan sebagai guru. Gerakanperempuan sejak zaman pra kemerdekaan juga banyak memilih pendidikan sebagai modal emansipasi dan melepas diri dari penjajahan. Dalam kebudayaan, hampir sepanjang zaman perempuan dituntut dalam peran mendidik, terutama ketika dia sudah menjadi ibu, untuk mendidik anak-anaknya. Namunpara perempuan ini banyak yang tidak memahami ada apa sebetulnya dibalik persoalan pendidikan. 
 
Pada masa ini persoalan pendidikan tidak dapat lepas dari persoalan kebijakan negara. Masyarakat sangat bergantung pada sistem pendidikan yang berlaku. Dalam wacana Millenium Development Goals, pendidikan telah dicanangkan sebagai hak masyarakat yang harus dipenuhi. Oleh karena itu sistem dan infrastrukturnya perlu dibangun sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya. Namun dari banyak keluhan yang terjadi, kita perlu mengetahuiapa sebetulnya yang terjadi dengan sistem dan infrastruktur pendidikan kita. 
 
Jurnal Perempuan kali ini menyajikan satu lagi tema pendidikan, sebagai
salah satu pengetahuan penting untuk mengetahui problem dan apa yang
perlu dilakukan dalam pendidikan, yang disadar bahwa tema pendidikan saat menjadi perhatian perempuan Indonesia. (MA)
 
 

 

SKU: 01700011
Price: Rp25,000.00
Rp25,000.00

Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi Perempuan dengan Disabilitas

 
Judul Buku: Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi Perempuan dengan Disabilitas
Penulis: Ariani Soekanwo, Astrid Louisia, Eva Kasim, Inge Komardjaja, Mimi Lusli, Nudiyansyah Dalidjo, Nurul Saadah Andriani, Ir. Rachmita M. Harahap, M.Sn, Titiana Adinda
Penerbit: Yayasan Jurnal Perempuan
Tebal: xii + 169 halaman
Cetakan: Pertama, Juli 2011
ISBN: 978-979-3520-11-7
 
Sudah cukup layakkah ruang-ruang untuk akses dan kesempatan bagi perempuan dengan disabilitas? Lalu bila pertanyaannya didetailkan lagi, seimbangkah sosialisasi dan edukasi tentang kesehatan reproduksi perempuan disabel dan non-disabel? Bila melihat fakta, jawabannya, perempuan dengan disabilitas masih belum mendapatkan tempat memadai di ruang-ruang publik, dan nyaris tidak tersentuh dengan isu kesehatan reproduksi (kespro). Dengan demikian, tanpa banyak diketahui, ternyata ada diskriminasi terhadap disabel untuk berkarya di ruang publik. Kenyataan ini semakin parah dengan fakta lemahnya penegakan hak-hak  mereka terhadap akses sosialisasi dan edukasi kespro yang tidak setara terhadap perempuan dengan disabilitas.
 
Pada sebagian masyarakat Indonesia, orang tua yang memiliki anak disabel masih diliputi rasa malu sehingga sang anak “disembunyikan” di rumah. Hal tersebut, menurut Mimi Lusli, berimbas pada peniadaan akses pengetahuan anak tentang kesehatan reproduksinya. Padahal bagi disabel perempuan, menurut Titiana Adinda, sangat rentan terhadap pelecehan seksual bila ia tidak mendapatkan informasi dan pemahaman hak seksualitasnya.
 
Selain itu, literasi mengenai isu perempuan disabel dapat dikatakan masih terlalu sedikit, sehingga cukup banyak orang tua yang memiliki anak disabel atau masyarakat secara umum masih luput dari pengetahuan bagaimana melindungi mereka yang berkebutuhan khusus. Untuk itulah melalui buku yang berjudul Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi Perempuan dengan Disabilitas, yang diterbitkan oleh Yayasan Jurnal Perempuan, didukung oleh Terre Des Homes, membahas secara lengkap tentang kesehatan, akses infrastruktur untuk perempuan dengan disabilitas, pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi bagi perempuan disabel, sampai pada kebijakan yang masih belum sepenuhnya mendukung akses dan informasi lengkap mengenai isu ini.

 
 
 

SKU: 02190012
Price: Rp30,000.00
Rp30,000.00

Sambutlah Kepulangan Kami

 Judul Buku: Sambutlah Kepulangan Kami
 Penulis: Iva Kasuma, Thaufiek Zulbahary, Kiki Febriyanti, Wawan Suwandi
Penerbit: Yayasan Jurnal Perempuan, Juli 2011
Tebal: vii + 164 halaman
Cetakan: Pertama
ISBN: 978-979-3520-12-4
 
 
“Perjalanan dari sana satu malam satu hari, diperjalanan, di tengah-tengah jalan kita diminta uang, satu juta, jadi berapa kan abisnya? Satu juta lebih! Saya terpaksa kasih, abisnya ya, itu di tengah-tengah hutan.” (Neng, mantan TKW asal Cianjur)
“Jika memang pengelola Terminal 4 ini tidak serius sebaiknya diganti saja. Tapi, kalau memang tidak bisa menyelesaikan persoalan, Terminal 4 sebaiknya ditutup saja!” (Menakertrans, Muhamaimin Iskandar)

Persoalan yang membelit Tenaga Kerja Indonesia (TKI), terutama Tenaga Kerja Wanita (TKW) bisa dikatakan paripurna. Lapis persoalan yang mereka hadapi dimulai dari perekrutan, penampungan, penempatan, dan saat kepulangan, semuanya terdapat celah terjadinya 3 P, yakni, penipuan, pemerasan dan pelecehan.
 
Dalam proses kepulangan TKI, banyak sekali uang yang berputar. Sementara TKI yang eksistensinya distigma sebagai orang kampung, lugu, bodoh dan sedang memiliki banyak uang, sebagaimana petikan wawancara di atas. Akibatnya 3 P di atas (penipuan, pemerasan dan pelecehan) rentan terjadi oleh TKI yang baru pulang dari luar negeri.
 
Melihat persoalan yang membelit TKI, pemerintah atas nama “perlindungan” kemudian membuat kebijakan dengan membentuk BNP2TKI dan membuat area khusus bagi TKI yang baru mendarat di Bandara Sukarno Hatta, Tangerang. Para TKI yang mendarat di Terminal 2, “digiring” menuju Gedung Pencatatan Kepulangan Tenaga Kerja Indonesia (GPKTKI) atau yang biasa disebut Terminal 4.
 
Lalu selesaikah persoalan TKI dengan mengkarantina TKI di terminal khusus tersebut? Apakah mereka bebas dari 3 P di atas? Diskriminatifkah pemerintah yang melarang TKI dijemput oleh keluarganya dan bebas memilih pulang dari terminal yang ia sukai? Bila persoalan TKI ternyata tidak bisa juga diminimalisir, masih patutkah Terminal 4 dipertahankan?
 
Buku yang berjudul: Sambutlah Kepulangan Kami, yang diterbitkan oleh Yayasan Jurnal Perempuan, mencoba membuka tabir terminal khusus TKI yang selama ini tertutup bagi masyarakat umum. Buku ini berusaha mempotret secara khusus tentang kepulangan TKI yang melalui Terminal 4 dengan cara terjun langsung ke lapangan dan wawancara mendalam dengan pihak-pihak terkait dalam persoalan kepulangan TKI, serta memuat pandangan sejumlah tokoh dan pegiat isu trafficking tentang perlu dan tidaknya keberadaan terminal khusus TKI.

 
 

SKU: 02190011
Price: Rp30,000.00
Rp30,000.00

Membangun Citra Baru Laki-laki

 
Judul : Membangun Citra Baru Laki-laki
Tahun Terbit : Juni 2011
Jml Hal : 42+xi
ISBN : 9789793520063
 
Apabila kita bicara tentang kekerasan terhadap perempuan sebagai bagian dari isu gender, maka kebanyakan laki-laki adalah pelakunya. Keingintahuan kita terhadap pertanyaan mengapa laki-laki sebagai pelaku akan sekaligus mengungkap keingintahuan kita bahwa di sisi lain laki-laki justru menjadi korban kekerasan itu sendiri.
Perlu kita ketahui bahwa laki-laki bukanlah manusia yang homogen, sebagaimana perempuan. Sifat dan karakter laki-laki berbeda-beda. Ketika kita bicara kekerasan terhadap perempuan, ada tiga tipe laki-laki yang terlibat di dalamnya, yaitu a) sebagai pelaku kekerasan yang memang seksis, rasis dan lainnya yang sejenis b) laki-laki bukanlah pelaku, dan kelihatannya mayoritas, tetapi bersikap tetap pasif, diam dan seringkali, langsung ataupun tidak, menjadi permisif terhadap berbagai bentuk kekersan dan seksisme di sekitarnya dan c) laki-laki bicara dan bahkan berteriak untuk menentang berbagai bentuk kekerasan dan seksisme, dan mengajak berbagai pihak, khususnya laki-laki, untuk berbuat hal yang sama.

Atas dasar tidak homogennya laki-laki, maka urusan kekerasan atau diskriminasi gender seharusnya juga menjadi urusan laki-laki dengan menjadi empati terhadap perempuan serta menyadari bahwa pada akhirnya laki-laki pun menjadi korban. Bahwa kekerasan adalah sesuatu yang dipelajari oleh laki-laki. Sementara perempuan banyak diajari soal kelembutan. Kekerasan laki-laki adalah akibat cara yang dipelajari laki-laki untuk mengekspresikan kemaskulinitasnannya dalam interaksinya dengan perempuan, anak, dan laki-laki lain. Banyak laki-laki menganggap kekuasaan sebagai kemampuan untuk mendominasi dan mengendalikan orang lain dan lingkungan sekitarnya. Pola pikir ini membuat penggunaan kekerasan dapat diterima kaum laki-laki.

Paradoksnya, sebagian besar kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki adalah tanda kelemahan, rasa tidak aman, dan kekurangan rasa percaya diri yang dikombinasikan dengan kapasitas untuk melakukan dominasi verbal dan fisik dan perasaan bahwa mereka selayaknya superior dan memegang kendali. Disebut sebagai kelemahan karena kekerasan adalah cara untuk menegaskan kekuasaan, hak-hak istimewa dan juga kontrol atau kendali.
 

SKU: 02190010
Price: Rp10,000.00
Rp10,000.00

T-shirt Change; It's time to be different

SKU: 05011311
Price: Rp50,000.00
Rp50,000.00

pilih ukuran

Pilih warna

Syndicate content