Mohon maaf untuk Jurnal Perempuan edisi ini tidak ada persediaan. Namun bila anda ingin mendapatkan Jurnal tersebut dapat kami sediakan berupa fotocopy dengan harga Rp. 25.000, hubungi langsung ke bagian pemasaran melalui 021-83702005 atau email: marketing@jurnalperempuan.com
Laki-laki menjadi feminis, mungkinkah? Kalau kita renungkan sejenak, pertanyaan ini menjadi pertanyaan yang secara teoritis bertentangan dengan feminisme itu sendiri. Pertama, tujuan feminisme sebagai gerakan peningkatan kesadaran gender utnuk menghasilkan aebuah transformasi sosial, tentunya mengandaikan bahwa laki-laki akan 'tertular ide-ide feminisme. Keua, feminisme untuk menjadi kekuatan moral, sosial dan politik, memerlukan dukungan masyarakat, termasuk kaum lelaki. Ketiga, dengan menolak laki-laki dalam kategori feminis, justru feminisme mempertahankan suatu pandangan esensialis (pandangan yang ditentang sebagian feminis), justru feminisme mempertahankan bahwa hanya perempuanlah yang bisa menjadi feminis.
Walaupun begitu, pertanyaan di atas tetap merupakan hal yang kontroversial di kalangan kaum feminis sendiri, dan sampai saat ini masih menjadi topik perbincangan di kalangan intelektual, akademisi maupun aktivis.
Kontra terhadap laki-laki feminis sering dilandasi oleh pandangan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai pengalaman historis yang berbeda. Contoh klasik adalah laki-laki tidak memiliki rahim sehingga tidak merasakan pengalaman biologis maupun makna sosial menjadi ibu atau calon ibu dalam masyarakat yang patriarkal. Secara empirik, menurut pendapat ini, laki-laki tidak mengalami penindasan gender sebagaimana yang dialami perempuan. Yanyi Muchtar, dalam “Apakah laki-laki dapat menjadi feminis?” lantas melemparkan pertanyaan mendasar: apakah sah mereka yang tidak secara langsung mengalami masalah yang dihadapi perempuan dikelompokkan sebagai feminis?
Para pakar da intelektual dari berbagai bidang, serta kalangan aktivis ang kami wawancarai dalam edisi ini, cenderung mengambil posisi yang cukup tegas dalam menyikapi persoalan “laki-laki feminis” ini, sebagaimana dapat disimak nanti. Kontroversi laki-laki feminis memang tidak khas milik Indonesia, tetapi di belahan dunia Barat pun, pada era 90-an ini, kontroversi laki-laki feminis masih ditemui dalam berbagai literatur, feminis, antara lain dapat kita simak dalam resensi buku Men Doing Feminism dalam edisi ini. Cemoohan terhadap laki-laki yang berani mengaku feminis dalam keseharian kita memang masih terdengar, bukan hanya dari kaum (feminis) perempuan. Tak jarang laki-laki tersebut manjadi bahan olokan sesama teman laki-lakinya dan dituduh mempunyai agenda politik pribadi.
Lantas laki-laki berkesadaran gender di Indonesia juga mengkritik balik kaum permpuan yang membuat tembik terhadap laki-laki yang berpotensi jadi feminis dan mencurigai bahwa mereka hendak menanam pengaruh. Sehingga, demikian seorang narasumber berpendapat, muncul kesan ada dua alasan orang menjadi feminis di Indonesia: pertama feminis karena traumatis, kedua feminis selebritis, yang lebih banyak kebutuhannya untuk selebritasi, ketimbang adanaya kesadaran yang diolah dan diterjemahkan secara organisatoris.
Secara positif, kontroversi laki-laki feminis ini dapat dianggap sebagai dialog yang memperkaya diskursus feminisme dan keragaman dalam isme tersebut, sehingga tidak perlu dijawab secara hitam putih. Ariel Haryanto dalam tulisannya berjudul “Label”, secara sederhana mengemukakan: “sebagai alat untuk 'menandai' perbedaan, label feminisme ibarat satu potong jari yang menunjuk ke arah sebuah alun-alun yang padat benda, orang, suara dan gerak. Tetap bisa membingungkan, kalau bukan menyesatkan”.
Jurnal Perempuan Edisi 12: Pria Feminis, Why Not?
SKU: 01120099
Price: Rp25,000.00
Rp25,000.00
