Skip to Content

Membangun Citra Baru Laki-laki

 
Judul : Membangun Citra Baru Laki-laki
Tahun Terbit : Juni 2011
Jml Hal : 42+xi
ISBN : 9789793520063
 
Apabila kita bicara tentang kekerasan terhadap perempuan sebagai bagian dari isu gender, maka kebanyakan laki-laki adalah pelakunya. Keingintahuan kita terhadap pertanyaan mengapa laki-laki sebagai pelaku akan sekaligus mengungkap keingintahuan kita bahwa di sisi lain laki-laki justru menjadi korban kekerasan itu sendiri.
Perlu kita ketahui bahwa laki-laki bukanlah manusia yang homogen, sebagaimana perempuan. Sifat dan karakter laki-laki berbeda-beda. Ketika kita bicara kekerasan terhadap perempuan, ada tiga tipe laki-laki yang terlibat di dalamnya, yaitu a) sebagai pelaku kekerasan yang memang seksis, rasis dan lainnya yang sejenis b) laki-laki bukanlah pelaku, dan kelihatannya mayoritas, tetapi bersikap tetap pasif, diam dan seringkali, langsung ataupun tidak, menjadi permisif terhadap berbagai bentuk kekersan dan seksisme di sekitarnya dan c) laki-laki bicara dan bahkan berteriak untuk menentang berbagai bentuk kekerasan dan seksisme, dan mengajak berbagai pihak, khususnya laki-laki, untuk berbuat hal yang sama.

Atas dasar tidak homogennya laki-laki, maka urusan kekerasan atau diskriminasi gender seharusnya juga menjadi urusan laki-laki dengan menjadi empati terhadap perempuan serta menyadari bahwa pada akhirnya laki-laki pun menjadi korban. Bahwa kekerasan adalah sesuatu yang dipelajari oleh laki-laki. Sementara perempuan banyak diajari soal kelembutan. Kekerasan laki-laki adalah akibat cara yang dipelajari laki-laki untuk mengekspresikan kemaskulinitasnannya dalam interaksinya dengan perempuan, anak, dan laki-laki lain. Banyak laki-laki menganggap kekuasaan sebagai kemampuan untuk mendominasi dan mengendalikan orang lain dan lingkungan sekitarnya. Pola pikir ini membuat penggunaan kekerasan dapat diterima kaum laki-laki.

Paradoksnya, sebagian besar kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki adalah tanda kelemahan, rasa tidak aman, dan kekurangan rasa percaya diri yang dikombinasikan dengan kapasitas untuk melakukan dominasi verbal dan fisik dan perasaan bahwa mereka selayaknya superior dan memegang kendali. Disebut sebagai kelemahan karena kekerasan adalah cara untuk menegaskan kekuasaan, hak-hak istimewa dan juga kontrol atau kendali.
 

SKU: 02190010
Price: Rp10,000.00
Rp10,000.00